Terminal Pamanukan Tak Berfungsi, ini Solusi Dari Tokoh Muda Pantura

0

SUBANG, PUTARAN.id – Keberadaan terminal dalam suatu daerah memang diperlukan untuk mengatur jalannya lalu lintas. Dengan adanya terminal, kendaraan umum tidak bisa sembarang tempat memarkirkan kendaraannya agar jalanan tak menjadi macet.

Namun tidak bagi terminal yang ada di wilayah Pamanukan Kabupaten Subang. Kendati memiliki dua terminal, satu di Jalan Eyang Tirtapraja No 18 (Jalur Pantura/samping SMPN 1 Pamanukan) dan satu lagi di jalan pasar inpres Pamanukan. Namun keduanya sudah belasan tahun tidak difungsikan. Alhasil, kendaraan umum di wilayah tersebut seperti hilang arah, mereka bebas memarkirkan kendaraannya dimana saja. Kepadatan dan kemacetanpun tak terhindarkan.

Heri (38), salah seorang warga sekitar terminal yang ada di Jalan Eyang Tirtapraja berharap agar terminal yang ada di Pamanukan itu kembali difungsikan. Menurutnya, selain untuk mengatasi kesemerawutan kendaraan umum juga bisa mengangkat perekonomian masyarakat di sekitar lokasi terminal.

“Iya pak kami sangat mengharapkan kepada Pemerintah khususnya Dinas Perhubungan Kabupaten Subang untuk memfungsikan kembali terminal lama pamanukan,” tutur Heri kepada PUTARAN.id, Jum’at (3/7/2020).

Namun, pandangan berbeda dibeberkan salah seorang tokoh pemuda Pantura, Asep Maulana. Ia menyebut, selain factor kesadaran dari para sopir angkutan umum, factor ketegasan dari pemerintah dan kajian secara mendalam juga harus dipikirkan karena kaitannya dengan letak geografis terminal itu sendiri.

“Permasalahannya adalah lokasi terminal itu jauh dari pusat-pusat perbelanjaan seperti Toserba Yogya dan PTC Pamanukan. Artinya, jika penumpang turun di terminal, mereka juga enggan untuk naik kendaraan angkutan lain lagi. Disamping memang masyarakat hari ini memilih kendaraan sepeda motor karena lebih hemat dan efektif,” ujar Asep.

Untuk menghidupkan kembali terminal tersebut, Asep memiliki beberapa solusi dan meminta kepada pemerintah untuk dipertimbangkan. Ia menyebut, untuk lokasi terminal yang ada di jalur Pantura baiknya digunakan untuk pusat olah-oleh khas pantura.

“Dalam hal ini pemerintah harus memiliki aturan untuk mewajibkan kendaraan mobil wisata yang melintasi kawasan tersebut harus berhenti sehingga ada kesempatan warga Pantura untuk berwirausaha menjajakan olej-oleh seperti jenis ikan laut dan makanan khas Pantura,” ujar Asep.

Selain itu, lanjut Asep, solusi untuk terminal yang ada di Jalan pasar inpres Pamanukan hendaknya dibuatkan pusat berkumpulnya warga Pamanukan dan teempat berekspressi anak-anak muda sehingga Pamanukan memiliki ikon tersendiri.

“Seperti halnya jogging track, pentas live music lokal, serta kreatifitas lain anak-anak muda bisa di lakukan di lokasi itu. Hingga saat ini kan Pamanukan belum memiliki ikon tersendiri,” ucapnya.

Ia menuturkan, untuk menghidupkan kembali kedua terminal tersebut harus dibuat terobosan dengan melakukan rekayasa social dan ekonomi sehingga masyarakat sekitar, umumnya di kawasan Pantura terbantu untuk meningkatkan taraf perekonomian.

“Kita buat ramai saja dulu kedua tempat itu. Jika sudah ramai kan tentu berpeluang menciptakan ruang-ruang perekonomian baru untuk masyarakat. Kan sayang tempatnya sudah strategis, tapi tidak produktif,” pungkasnya. (sep/dem)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini