Kemarau Tiba, Warga Mulai Kesulitan Air Bersih. Ini Himbauan Pemkab Subang

0
Ilustrasi Kekeringan (foto: Tribun News)

SUBANG,PUTARAN.id – Musim kemarau kini telah datang. Masyarakat, khususnya para petani kini dihantui kekeringan yang berdampak pada hasil tanamnya.

Pantauan PUTARAN.id, Sabtu (19/9/2020), di beberapa Desa di Kecamatan Pagaden Barat kini kekurangan air bersih. Banyak sumur warga mulai mengering sehingga sudah banyak warga kesulitan mencari air bersih seperti yang terjadi di Desa Sumurgintung, Munjul dan Margahayu.

Menurut salah satu warga Desa Sumurgintung, Tatang bahwa sudah beberapa minggu terakhir, dirinya mulai kesulitan air bersih.

“Jangankan untuk mandi dan mencuci, untuk minum saja kami sudah muali kesulitan. Walaupun akhirnya harus merogoh kocek tambahan untuk beli air minum isi ulang. Tapi kalau untuk nyuci, mandi dan memasak kami harus mencari ke tetangga yang sumurnya belum kering, itupun keluar airnya sedikit,” kata Tatang kepada PUTARAN.id.

Hal senada disampaikan warga Desa Munjul, Udin. Akibat sumur yang dimilikinya mengering, ia dan keluarga merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia menilai jika selain dampak masuknya musim kemarau, kekeringan terjadi karena cadangan air dalam bentuk kebun bambu di wilayah tersebut kini sudah berubah fungsi menjadi area persawahan.

“Biasanya sumur-sumur disini tak pernah kering karena dulu ada kebun bambu sebagai cadangan air. Tapi kini sudah berubah menjadi persawahan. Akhirnya, kini sumur kering sawah juga susah diairi,” kata Udin.

Sementara, untuk mengatasi permasalahan kekeringan, Pemerintah Kabupaten Subang kini sedang mempersiapkan beberapa strategi salahsatunya koorddinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II Subang mulai dijalin mulai dilakukan.

Sebagaimana dikutip Jabarpress.com, Pemkab Subang sudah melaksanakan rapat koordinasi penanganan kekeringan dan evaluasi tanam padi Musim Tanam I tahun 2019/2020 dan Musim Tanam II tahun 2020, di kantor PJT II Subang, Rabu (16/9/2020) yang lalu.

Wakil Bupati Subang, Agus Masykur mengatakan, permasalahan di Kabupaten Subang, khususnya Pantura sangat komplek, disaat musim kemarau timbul masalah kekeringan dan disaat musim penghujan timbul masalah banjir dan itu sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya.

“Kami berharap, aliran air yang menjadi sumber pengairan ke lahan pertanian dan kebutuhan masyarakat lainnya dapat mengalir, walaupun dalam keadaan kemarau dengan memperhatikan aliran sungai dan memperhatikan penjadwalan aliran sungai di beberapa titik pintu air yang dialirkan ke beberapa daerah,” kata Kang Akur sapaan akrabnya.

Wabup Kang Akur juga mengimbau para petani agar mengikuti dan menetapkan jadwal pola tanam semua pihak dengan bersinergi dalam menghadapi kekeringan diantaranya bersinergi dengan perangkat daerah, camat, muspika, kepala desa dan masyarakat.

Dia menegaskan, dengan air tetap ada dan tetap mengalir diharapkan lahan pertanian di Subang tetap produktif dan lahan pertanian kedepannya tetap menjadi lahan pertanian.

“Kita harus mempertahankan Subang sebagai lumbung padi nasional dengan tetap menjaga ketersediaan lahan pertanian,” ucap wabup. (sep/jabarpress.com)

Loading Facebook Comments ...