Dari Media Sosial hingga Jalanan, KOPRI untuk SDGs

0
Ilustrasi penulis Dalwa Tajul Arfah

PUTARAN.id,- Lebih dari setengah tahun ini kita habiskan dengan duka yang mendalam. Pandemi Covid-19 memukul rata hampir semua sektor kehidupan. Dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga politik dan hukum. Tidak terkecuali aspek lain yang tercakup dalam tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi program tujuan bersama negara-negara di dunia.

Dalam Program yang disahkan pada konferensi tingkat tinggi pembangunan berkelanjutan PBB, yang dilangsungkan di New York pada 25-27 September 2015. Terdapat 17 hal yang mempunyai 169 Pencapaian yang mencakup 4 pilar, yakni Pilar Pembangunan Sosial, Pilar Pembangunan Ekonomi, Pilar Pembangunan Lingkungan, dan Pilar Hukum dan Tata Kelola. Salahsatu tujuan yang terkandung dalam Pilar Pembangunan Sosial dalam SDGs adalah terciptanya kesetaraan gender.

Setelah adanya gerakan feminisme yang berawal pada akhir abad ke-18 dan berkembang pesat sepanjang abad ke 20, kesadaran akan pentingnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, masif berkembang. Sehingga terbentuk berbagai gerakan perempuan yang diwadahi oleh berbagai organisasi dalam menyuarakan hak-hak perempuan.

BACA JUGA: Pionir Toleransi dan Pluralisme Islam DI Indonesia: SELAYANG PANDANG PEMIKIRAN NURCHOLIS MADJID

Diantara organisasi yang menjadi wadah bagi perempuan untuk menyuarakan hak-haknya ialah Korp PMII Putri (Kopri). Kopri merupakan badan semi otonom dari organsasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mewadahi anggota perempuannya untuk mengembangkan potensinya, juga berjuang menyuarakan nilai-nilai kesetaraan.

Nilai-Nilai dibalik Kesetaraan Gender dalam Islam

Ditengah arus modernisasi yang kian deras, berbicara kesetaraan gender masih saja ada perdebatan. Dibalik pentingnya hal ini, sebagai bentuk kepedulian kepada perempuan yang memiliki pengalaman cukup buruk di masa lalu karena hegemoni patriarki yang begitu kental, tak sedikit yang masih meyakini bahwa kesetaraan gender itu tidak baik adanya. Dengan dalih gerakan feminisme ini berasal dari Barat, hingga disimpulkan tidak sesuai dengan ajaran Islam juga norma masyarakat lokal diluar Barat.

Perlu diperhatikan, yang diperjuangkan oleh para aktivis perempuan, gagasan dan isu yang dibahas mereka adalah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang selama ini banyak tergerus hanya karena terlahir sebagai perempuan. Memang, kali ini perempuan sudah bisa menempuh pendidikan tinggi, sudah bisa menempati profesi-profesi yang dulu hanya bisa diduduki oleh laki-laki, sudah memiliki hak suara penuh dalam pilihan politiknya. Tapi, buruh perempuan dengan upah yang lebih kecil dari laki-laki pada tugas yang sama, masih ada.

Di lain kasus juga buruh perempuan hamil yang masih diberi beban yang sama tanpa dispensasi, ada. Pelecehan seksual? marak adanya, dari ranah privat hingga publik. Sudah terciptakah ruang aman bagi perempuan dimanapun dia berada? Keluarga saja, yang harusnya menjadi tempat pulang, ruang yang paling aman, masih banyak terjadi kekerasan seksual yang menimpa perempuan didalamnya. Apalagi di ruang publik.

Mari ingat lagi, siapa muslim pertama pembela hak-hak perempuan? Rasulullah saw. Beliau mengangkat harkat martabat juga nilai perempuan di tengah masyakat Arab di zaman itu yang begitu patriarkis. Tidak ada lagi anak perempuan yang dikubur hidup-hidup karena aib, tidak ada lagi obejktifikasi terhadap perempuan. Yang tadinya menjadi harta warisan, karena dianggap sebagai properti yang dimiliki, menjadi berhak memiliki properti dengan mendapat bagian hak waris.

Tak berhenti disana, Aisyah r.a berbicara begitu lantang membela hak-hak nya sebagai perempuan, juga dengan kritisnya memeprtanyakan berbagai hal kepada Rasulullah saw. mengenai segala hal yang dirasa mengganjal baginya. Dan banyak lagi sahabat-sahabat perempuan Rasulullah lainnya yang berkontribusi dalam menegakkan hak-hak perempuan, juga menganggap perempuan sebagai subjek penuh kehidupan. Bukankah ini sejalan?

BACA JUGA: Pilkada Kabupaten Bandung, PMII: Kami Independen

Saat itu, feminisme belum dikenal. Sepertinya, gerakan-gerakan yang menyuarakan pembelaan terhadap perempuan tak pantas lagi dianggap lahir dari Barat. Karena, Rasulullah telah jauh lebih dulu membela perempuan sebelum Barat. Pembelaan terhadap perempuan justru lahir dari Islam.

Kontribusi Kopri untuk SDGs

Berawal dari kekhawatiran tersebut, yang memisahkan antara feminisme dan Islam, Kopri hadir untuk menyatukan dua sudut yang dianggap bersebrangan itu. Kopri membuktikan bahwa antara ajaran Islam dan feminsme itu ada titik tengah yang dapat disatukan, bahkan memiliki ruh yang sama. Karena ruh Islam adalah ruh kebaikan untuk semesta alam, termasuk perempuan.

Tak berhenti sampai mempelajari dan meyakini, sebagai bentuk kontribusi untuk SDGs 2030, kopri terus berusaha membumikan kesetaraan gender. Khususnya, Kopri Kabupaten Bandung yang terus membumikan kesetaraan gender di berbagai sektor, seperti ruang diskusi, media sosial, hingga jalanan.

Berikut adalah salah satu contoh andil kopri dalam menyuarakan kebenaran dalam aksi tolak omnibuslaw di gedung DPRD Kota Bandung.

Ilustrasi: contoh andil kopri dalam menyuarakan kebenaran (Source: instagram/vivitamia__)

Jika jalanan tak bisa menyentuh berbagai kalangan, maka Kopri tak berhenti sampai sana. Media sosial, sebagai media ysng menyatukan berbagai kalangan, bisa menjadi wadah yang ampuh untuk membumikan kesetaraan gender. Juga pemahaman tentang feminisme, ajaran islam, juga isu-isu gender itu sendiri.

Source:tiktok/koprirtk

Meski dihantam pandemi, life must go on, masih banyak perempuan yang menjadi penyintas perundungan, penyintas kekerasan seksual, perempuan hamil yang dipekerjakan tanpa dispensasi, perempuan yang masih kurang didengar suaranya, perempuan yang menjadi orang tua tunggal juga mendapat stereotipe buruk di masyarakat, dan bentuk objektifikasi terhadap perempuan lainnya. Ruang aman untuk perempuan harus tercipta, keadilan gender harus tercipta, setara tak berarti sama. Pengalaman sosial buruk perempuan harus dimusnahkan, pengalaman biologis perempuan harus difasilitasi.

Salah satu tujuan mulia dari SDGs ini harus tetap berjalan dan terus meningkat. Kopri dan tentunya PMII hadir untuk ini, untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan kaum tertindas, dari media sosial hingga jalanan.

Penulis: Dalwa Tajul Arfah
Editor: Ryan Sevian

loading...
Loading Facebook Comments ...