Sejarah Pelarangan Buku di Indonesia Pada Masa Hindia-Belanda

0
Lembaran lengkap resmi negara, Algemeen Handesblad 26 Agustus 1929 (bahasa Belanda), yang menulis berita tentang horoskop tahunan orang Melayu yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Poestaka.

PUTARAN.id – Buku adalah sebuah elemen penting dalam suatu peradaban, meskipun seringkali kejahatan terhadap produk literatur ini sering terjadi sepanjang waktu dan tempat. Seringkali kejahatan terhadap buku melibatkan kepentingan politik dari para pemegang kekuasaan, meskipun tidak menutup kemungkinan kebencian terhadap jenis buku tertentu juga bisa mendorong kejahatan terhadap buku.

Terkait hal tersebut, menurut Rebecca Knuth, kejahatan terhadap produk literatur karena alasan politis dalam bentuk apapun disebut sebagai librisida atau pemusnahan terhadap buku, (Knuth, 2003). Praktik librisida ini hampir terjadi di berbagai tempat dan zaman, termasuk di Indonesia.

Meskipun pelarangan buku atau librisida di Indonesia telah jauh terjadi sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara, dokumentasi sejarah pelarangan buku di Indonesia yang cukup jelas dapat kita temukan yaitu pada masa kolonial Belanda. Pada artikel ini, mari kita telusuri bagaimana pelarangan buku di Indonesia sebelum kemerdekaan.

Beberapa sumber mengungkapkan, bentuk librisida pada masa kolonial Belanda adalah pemenjaraan atau pengasingan sang penulis buku karena karyanya secara politik memiliki perbedaan dengan orientasi kebijakan pemerintah kolonial. Salah satu contoh yang cukup terkenal adalah pengasingan terhadap penulis sebuah buku tipis bernama Soewardi Soerjaningrat. Dirinya menulis ‘Seandainya Saya Warga Belanda’ (Als ik een Nederlander was) yang berisi kecaman terhadap selebrasi 100 tahun lepasnya kerajaan Belanda dari imperialisme Perancis pada 1913 yang dirayakan di Hindia Belanda. Karena tulisannya ini, sang penulis harus mengalami pengasingan di Belanda, (Yusuf et al., 2010).

Selain pengasingan terhadap Soewardi Soerjaningrat, librisida pada masa Hindia Belanda mengambil bentuk yang berbeda, yaitu dengan melibatkan kontrol terhadap apa yang boleh dan tidak boleh dibaca oleh rakyat. Pengendalian bacaan ini dilakukan oleh satu-satunya badan penerbit milik pemerintah kolonial, yaitu Balai Poestaka.

Salah Satu contoh lembaran resmi negara, Algemeen Handesblad 26 Agustus 1929 (bahasa Belanda) yang menuliskan berita tentang horoskop tahunan orang Melayu yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Poestaka.

Tercatat sejak berdiri pada 1917, Balai Poestaka menjadi sebuah lembaga yang memainkan peranan penting sebagai badan sensor bagi buku-buku yang menganggu citra pemerintah kolonial sebelum kemerdekaan Indonesia, (Teeuw, n.d.). Selain berperan sebagai lembaga sensor, Balai Poestaka juga menghindari penerbitan buku-buku bertema politis dan bacaan-bacaan yang tidak sesuai dengan orientasi pemerintah kolonial, yang dicap sebagai Bacaan Liar.

Contoh lain kontrol Balai Poestaka pada masa Hindia Belanda hadir pada pemberangusan novel ‘Salah Asuhan’ karya Abdul Moeis, karena dianggap mencemari citra orang-orang Eropa terhadap pribumi, sehingga novel ini dianggap sebagai Bacaan Liar.(Sulton, 2015) Selain itu, beberapa tulisan dari kaum pergerakan juga mengalami pemberangusan karena dianggap offensif terhadap pemerintah kolonial. Contohnya, Mas Marco Kartodikromo, yang aktif sebagai aktivis kiri pada 1918, ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara karena menuliskan cerita bersambung berjudul Student Hidjo, yang isi nya kurang lebih menuntut persamaan antara pribumi dan Eropa, (Fauzan, 2003).

Sebagai penutup, meskipun librisida telah hadir pada masa Hindia Belanda dan mengancam para penggiat sastra dan pergerakan, kejahatan terhadap produk literatur cenderung tidak dilakukan dengan regulasi, sehingga melibatkan penulisnya secara langsung. Dari beberapa kasus yang telah disebutkan di atas, akibat perbedaan orientasi  pemerintah Belanda dengan apa yang ditulis di dalam karya sang penulis, para penulis harus mengalami pemenjaraan atau bahkan pengasingan.

 

Penulis: Rendy Kurniawan

Baca juga tulisan menarik lainnya Rendy Kurniawan

loading...
Loading Facebook Comments ...