Dianggap Resah, Warga di Subang Tolak Surat Edaran Pelarangan Batu Nisan Makam

0
Ilustrasi gambar

SUBANG, PUTARAN.id – Warga di dua desa di Subang, yaitu Desa Bendungan dan Desa Mekarwangi Kecamatan Pagaden Barat dibuat geger dan resah terkait edaran surat tentang pelarangan pemasangan Parako atau Batu Nisan Makam.

Selebaran surat tersebut bentuknya tata tertib makam yang disebarkan oleh Komunitas Peduli Makam Leuwiliang dan Rawa Pendil di Desa Mekarwangi.

Berikut foto surat edaran yang diterima PUTARAN.id, Selasa (19/1/2021).

Selebaran surat dari Komunitas Peduli Makam Leuwiliang dan Rawa Pendil di Desa Mekarwangi.

Selebaran surat yang ditandatangani oleh Ustadz Muhammad Bahruddin tersebut mendapat penolakan dan kecaman dari berbagai kalangan masyarakat.

BACA JUGA:

Hal itu dikemukakan langsung oleh H Indra selaku Kepala Seksi (Kasi) Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantib), Kecamatan Pagaden Barat.

Indra membenarkan bahwa surat edaran terkait tata tertib makam yang diedarkan oleh Komunitas Peduli Makam Leuwiliang dan Rawa Pendil di Desa Mekarwangi tersebut mendapat penolakan dari masyarakat.

“Ya, betul. Ada aduan ke saya, masyarakat di dua desa (Desa Bendungan dan Desa Mekarwangi) menolak atas surat edaran tersebut,” keterangan Indra kepada PUTARAN.id, Selasa (19/1/2021).

Indra menyoroti tentang poin yang dianggapnya sebagai suatu ancaman tentang penetapan dan denda nilai uang bagi masyarakat yang melanggar peraturan tersebut.

“Ini sangat riskan sekali dan akan jadi boomerang bagi masyarakat yang keluarganya dimakamkan di dua makam itu,” tandas Indra.

Lanjut Indra, bahwa keberadaan Komunitas Peduli Makam Leuwiliang dan Rawa Pendil tersebut legalitas nya tidak ada. Indra menganggap keputusan surat edaran itu bertentangan dengan hukum.

“Kami akan minta keputusan terkait tata tertib makam tersebut dibatalkan, karena ini bukan ranah mereka, kepengurusan makam sudah ada yang menjaga dan pengurusnya sudah di SK-kan oleh pihak desa,” pungkas Indra.

BACA JUGA:

Sedangkan Ustadz Muhammad Bahruddin, membenarkan bahwa dirinya lah yang menandatangani dan menyebarkan surat edaran tata tertib tersebut.

“Iya, tanda tangannya saya. Itu kan, komunitas. Komunitas Peduli Makam,” kata Ustadz Bahruddin kepada PUTARAN.id melalui keterangan via telepon, Selasa (19/1/2021).

Ustadz Bahruddin menyebutkan bahwa hal itu dilakukan sengaja dengan tujuan untuk sosialisasi serta mengetahui tanggapan dari masyarakat.

“Dari awalnya gini, ini berawal dari pengajian forum Desa Mekarwangi, ada yang menanyakan tentang hukum Parako (Batu Nisan, Red), maka dibahas lah secara hukum agama. Bahwa memasang Parako itu hukumnya, kan, haram, ketika memang di lahan umum,” jelas Ustadz Bahruddin.

Menanggapi perihal penetapan jumlah uang yang tertulis dalam surat edaran tersebut, Ustadz Bahruddin menyebutkan bahwa hal itu memang disengaja.

“Maksud dan tujuannya itu kan, supaya (masyarakat) tidak memasang (Parako di Makam),” tandasnya.

“Kemudian kalau memang dia pasang (Parako di Makam), monggo-monggo, tapi, nanti dibelikan lahan pribadi. Makamnya dipindahkan ke lahan pribadi yang tadi dibeli. Jadi, biar nanti hukumnya kembali jadi tidak haram, karena di lahan pribadi, secara otomatis bentuk hukumnya jadi makruh,” pungkas Ustadz Bahruddin.

(asp/ryn)

Loading Facebook Comments ...