Peran Pemuda dalam Pembangunan Bangsa

0
Siti Susanti
Siti Susanti

Oleh : Siti Susanti

PUTARAN.id – Pemuda adalah harapan bangsa. Ia adalah masa depan. Maju mundurnya bangsa tergantung pada pemudanya. Maka, penanganan pemuda harus menjadi fokus perhatian secara serius.

Jawa Barat sendiri akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2045 mendatang, yang akan menjadi sebuah berkah jika baik mempersiapkannya.

BACA JUGA: Haruskah Pemekaran Wilayah Untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat?

Di sisi lain, indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Jabar mengalami penurunan. Saat ini menempati urutan 20 dari 34 provinsi di Indonesia (repjabar.republika.co.id,15/4).

Salah satu penyumbangnya adalah pengangguran, yang terbesar berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kemudian diusulkan agar SMK dikoneksikan dengan dunia kerja dan dunia industri.

BACA JUGA: Meraih Taqwa Melalui Ketaatan Secara Total

Amat disayangkan, upaya peningkatan pembangunan pemuda dikaitkan dengan upaya mengoneksikan sekolah khususnya SMK dengan dunia kerja dan industri.

Hal ini hanya menjadikan lulusan SMK sebagai buruh dari para pengusaha, mengerdilkan potensi pemuda, dan hanya mempersiapkan untuk mengisi posisi-posisi tertentu sebagai pegawai. Sehingga seandainya pengangguran dapat dientaskan, dan IPP naik, namun apakah hal ini dapat dijadikan jaminan sebagai solusi bagi pembangunan bangsa?

BACA JUGA: Membuka Tabir Adagium Kelompok Marjinal

Jika ingin menjadi juara, seharusnya disusun kurikulum yang bisa menciptakan generasi yang berkepribadian mulia dan ahli atau pakar di berbagai bidang kehidupan, yang bisa membawa Jabar bahkan bangsa ini maju dan terdepan, bukan sekadar generasi yang siap memenuhi kepentingan dunia usaha dan industri milik korporasi.

Inilah watak sistem kapitalisme sekuler, di mana memandang segala sesuatu berdasarkan untung rugi secara finansial. Demokrasi yang lahir dari rahim sekularisme, nyata-nyata dalam prakteknya lebih mengutamakan kepentingan para kapitalis pemilik modal. Sehingga berbagai kebijakan yang dikeluarkan lebih banyak guna memenuhi kepentingan kapitalis.

BACA JUGA: Dari Media Sosial hingga Jalanan, KOPRI untuk SDGs

Dalam alam kapitalisme, para pemegang kebijakan justru bertindak sebagai fasilitator yang membuat berbagai kebijakan untuk kepentingan para pemilik modal.

Adapun Islam, berbeda dengan kapitalisme. Secara filosofis Islam memandang pemuda dengan segala keistimewaannya.

BACA JUGA: Dimasa Pandemi, Pesantren Harus Diselamatkan

Asas pendidikan Islam adalah aqidah Islami. Dari sini, terpancarlah berbagai macam peraturan termasuk pendidikan. Pendidikan dilaksanakan karena mengharap rida Allah SWT, sehingga bukan dalam rangka menggapai untung secara material.

Maka, proses pendidikan yang dijalankan adalah dalam rangka mencetak manusia yang bertaqwa, memiliki kepribadian Islam, serta mampu bermanfaat bagi masyarakat. Sehingga, bukan diorientasikan untuk sekedar menjadi mesin uang.

BACA JUGA: Selayang Pandang Pemikiran Nurcholis Madjid

Visi besar dalam pendidikan Islam, adalah bagaimana pemuda bisa menjadi generasi penerus pembawa peradaban mulia. Maka, konten inovasi dan teknologi dalam pendidikan diarahkan dalam rangka menggapai visi ini.

Penguasaan inovasi dan teknologi harus dicapai karena masyarakat membutuhkannya, jadi bukan sekedar karena dunia kerja/para kapitalis membutuhkannya.

BACA JUGA: Perkembangan Teori Hukum dari Zaman Ketelanjangan Alam Raya ke Era Aufklarung

Di sisi lain, karakter pemimpin menjadi hal penting yang akan ditanamkan kepada setiap pemuda. Sehingga, tidak hanya dibekali keterampilan, namun juga bagaimana dengan keterampilan yang dimiliki, menjadi modal dalam memimpin peradaban.

Semua ini tentu terkait dengan kemandirian politik ekonomi, sehingga setiap langkah pembangunan terbebas dari intervensi pihak lain, baik korporasi lokal atau asing.

BACA JUGA: Berikut Curhatan Jokowi saat Jadi Pembicara di Kompas 100 CEO Forum Tahun 2021

Visi ini akan tercapai manakala sistem kehidupan kondusif, di mana pemimpin menjadi pelayan masyarakat, bukan pelayan pengusaha. Hadits Nabi SAW:

” Imam/pemimpin adalah ra’in (pengurus urusan masyarakat), dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan yang menjadi tanggung jawabnya”.

BACA JUGA: Becak dalam Arus Sejarah di Jalan Malioboro

Dengan demikian, maka bangsa yang maju dan mandiri akan tercapai, karena para pemuda tertempa dengan pendidikan bervisi ke depan.

(Tulisan opini murni tanggungjawab penulis dan diluar tanggung jawab redaksi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini