Peringati Dirgahayu HAB Kementerian Agama RI, MUI Pagaden Barat Laksanakan Pemulasaraan Mayat

Proses acara Pelatihan Pemulasaraan Mayat yang diselenggaran oleh MUI Pagaden Barat, 4 Januari 2022 (foto: Asep Ocay)

SUBANG, PUTARAN.id – Dalam rangka memperingati dirgahayu Hari Amal Bhakti (HAB) Kementrian Agama RI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Pagaden Barat Kabupaten Subang melaksanakan Pelatihan Pemulasaraan Mayat. Kegiatan ini atas kerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Pagaden Barat pada Selasa (04/01/2022) di Aula Kecamatan Pagaden Barat.

Ketua Panitia pelaksana kegiatan, Ade Jajang, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menyelaraskan persepsi dalam pemulasaraan mayat di Kecamatan Pagaden Barat. Lebih lanjutnya, pihaknya tidak akan memaksakan paham-paham yang berbeda, tapi lebih pada menguatkan persaudaraan antara amil se-Kecamatan Pagaden Barat.

BACA JUGA: Alih Fungsi Lahan di Pagaden Barat Disoal

“Dengan acara kegiatan ini, minimal antara amil saling mengenal satu sama lainnya,” kata Ade kepada PUTARAN.id saat setelah acara selesai.

“Karena tidak semua mengenal, kan, antara amil desa yang satu dengan desa yang lainnya. Dengan acara ini, kita bisa saling silaturahmi dan sinkronisasi, tidak ada perbedaan dalam pemulasaraan mayat,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan juga oleh KH Abdul Manaf ketua MUI Kabupaten Subang, bahwa Pelatihan Pemulasaraan Mayat ini merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh MUI. Pada perinsipnya, dirinya sangat percaya mereka yang dilatih ialah dari kalangan praktisi yang sudah biasa mengurus mayat.

BACA JUGA: Warga Sekitar Menyayangkan Pengusaha Ayam di Pagaden Barat Tidak Patuh Hukum

“Pada prinsipnya yang pokok seperti memandikan (mayat) yang harus seragam ketika air itu bisa membasuh tubuh mayat dari ujung kepala sampai ujung kaki udah selesai,” kata KH Abdul Manaf.

“Tapi yang paling utamanya, boleh tiga kali, ada juga tujuh kali, ada yang memakai kayu sirih, ada juga yang memakai sabun mandi. Nah, hal-hal perbedaan yang kecil itu yang sering kali terjadi. Sebetulnya itu tidak mempengaruhi dan tidak menjadi dosa apabila tidak dilaksanakan,” timpalnya.

Lebih lanjut, KH Abdu Manaf mengatakan jikadikaitkan dengan tema acara pelatihan ini, sangat baik untuk merepleksikan dan memodernisasikan keberagaman yang ada di kalangan masyarakat.

“Saya paham, jadi kadang-kadang ada perbedaan-perbedaan, maka ketika perbedaan itu bukan sesuatu yang prinsip, maka itu bisa disederhanakan kalau tidak bisa dihilangkan sama sekali,” jelas KH Abdul Manaf.

BACA JUGA: Puluhan Perusahaan Ayam Potong di Pagaden Barat Diduga Bodong

Terakhir, dirinya percaya bahwa pada prinsipnya pada bagian pokok dan wajib, itu akan seragam ketika ada lebihnya mencari keutamaan. Menurutnya, perbedaan yang terjadi di masyarakat jangan sampai mengganggu keharmonisan antar keyakinan dan merusak Islam itu sendiri.

“Kalau dilaksanakan tidak utama, itu sudah cukup. Tapi kalau hal tersebut gara-gara tidak dilaksanakan di sesuatu hal yang jadi masalah, itu bukan meninggikan Islam, tapi itu merusak kaidah ke-Islaman,” pungkasnya. (Asep Ocay)