PUTARAN.ID | PIDIE – Peta persaingan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh 2026 kian dinamis. Sejumlah figur mulai bermunculan, baik dari internal maupun eksternal partai, menandai fase awal kontestasi kepemimpinan yang diprediksi akan menentukan arah dan kekuatan politik Demokrat Aceh dalam menghadapi agenda lima tahun ke depan.
Musda kali ini dipandang bukan sekadar forum pergantian ketua, melainkan momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi internal, merumuskan strategi politik, serta memantapkan langkah Demokrat Aceh menuju Pemilu mendatang.
Dalam pusaran dinamika tersebut, sejumlah nama potensial mulai diperbincangkan secara terbuka di kalangan kader dan elite partai. Dari internal, figur Nurdiansyah Alasta dan H.T. Ibrahim mencuat sebagai kandidat kuat. Sementara dari luar struktur partai, nama Illiza Sa’aduddin Djamal turut masuk dalam radar pembahasan publik, menambah warna dalam konstelasi politik Musda Demokrat Aceh.
Di tengah menguatnya dinamika itu, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie, Teuku Syawal, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Nurdiansyah Alasta. Ia menilai sosok yang akrab disapa DNA tersebut sebagai figur paling relevan dan siap secara kapasitas untuk menakhodai Demokrat Aceh periode 2026–2031.
Menurut Syawal, DNA memiliki kombinasi pengalaman politik dan kepemimpinan yang lengkap. Dua periode menjabat sebagai Anggota DPRA, kini memimpin Komisi IV DPRA, serta dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara DPD Partai Demokrat Aceh menjadi bukti kapasitas manajerial sekaligus kepercayaan organisasi terhadap dirinya.
Lebih jauh, ia menilai jejaring politik DNA yang luas—baik dengan partai nasional, partai lokal, maupun Pemerintah Aceh merupakan modal strategis dalam memperkuat posisi dan daya tawar partai di tingkat daerah maupun nasional.
Tak hanya itu, keberanian DNA dalam menyuarakan isu-isu strategis daerah, termasuk menyoroti dugaan aliran dana tambang ilegal yang merugikan Aceh, dinilai sebagai cerminan kepemimpinan yang tegas, responsif, dan berpihak pada kepentingan publik.
Syawal juga menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan di tubuh Demokrat Aceh. Menurutnya, kehadiran figur yang mampu menjangkau pemilih muda menjadi faktor kunci, mengingat segmen tersebut akan menjadi penentu signifikan dalam kontestasi pemilu mendatang.
Meski dinamika dukungan terus menguat, Syawal menegaskan seluruh proses Musda harus tetap berjalan sesuai mekanisme organisasi. Ia mengingatkan bahwa keputusan akhir terkait kepemimpinan DPD Partai Demokrat Aceh tetap berada di tangan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, sesuai dengan ketentuan partai.
Musda Demokrat Aceh 2026 pun diproyeksikan menjadi arena strategis yang tak hanya menentukan figur ketua, tetapi juga masa depan arah politik dan konsolidasi kekuatan Demokrat di Tanah Rencong.


