PUTARAN.ID | BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh, Yahdi Hasan, mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, sebagai Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra, Bahasa, dan Budaya Tahun 2026.
Apresiasi tersebut disampaikan Yahdi Hasan dalam wawancara melalui sambungan telepon pada Minggu (9/8/2026). Ia menilai penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap perhatian dan kontribusi Murthalamuddin dalam mendorong kemajuan pendidikan di Aceh.
Menurut Yahdi, penghargaan tersebut dinilai tepat karena Murthalamuddin memiliki pemahaman yang cukup kuat mengenai berbagai persoalan dan kebutuhan pendidikan, tidak hanya dari sisi tata kelola, tetapi juga menyangkut peningkatan kualitas peserta didik, kompetensi guru, literasi, bahasa, sastra, hingga penguatan nilai-nilai budaya.
“Penghargaan itu pantas diberikan kepada beliau dan sosoknya juga tepat. Murthalamuddin adalah sosok yang paham terhadap dunia pendidikan dan mengerti apa yang dibutuhkan dalam peningkatan kualitas pendidikan Aceh,” ujar Yahdi.
Tren Positif Pendidikan Mulai Terlihat
Yahdi menilai, selama Murthalamuddin memimpin Dinas Pendidikan Aceh, sejumlah upaya perbaikan sektor pendidikan mulai menunjukkan perkembangan positif.
Ia menyebut peningkatan kualitas pendidikan harus dilihat secara menyeluruh dan berkelanjutan, termasuk dari aspek kualitas peserta didik, peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan, serta pemerataan akses dan mutu pendidikan di seluruh wilayah Aceh.
Dengan cakupan pendidikan yang melibatkan 23 kabupaten/kota, kata Yahdi, diperlukan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masing-masing daerah sekaligus memastikan standar mutu pendidikan terus meningkat.
“Yang paling penting adalah bagaimana program-program pendidikan benar-benar memberikan dampak kepada siswa dan guru di seluruh Aceh. Jangan hanya berhenti pada kebijakan, tetapi harus terlihat hasilnya di sekolah,” katanya.
Literasi dan Budaya Bentuk Karakter Generasi
Selain aspek akademik, Yahdi menekankan pentingnya menempatkan bahasa, sastra, literasi, dan budaya sebagai bagian strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Aceh.
Menurutnya, pendidikan tidak semestinya hanya diarahkan untuk mengejar nilai dan prestasi akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kecintaan generasi muda terhadap identitas dan kebudayaannya.
“Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan memahami akar budayanya. Kemajuan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan identitas,” ujarnya.
Ia menilai penguatan literasi juga menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi. Kemampuan membaca, memahami, memilah, menganalisis, dan menyampaikan informasi secara tepat merupakan modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan.
Penghargaan Harus Menjadi Energi untuk Berbuat Lebih Besar
Yahdi berharap penghargaan yang diterima Murthalamuddin tidak sekadar menjadi pencapaian personal, tetapi dapat menjadi energi baru bagi Dinas Pendidikan Aceh untuk memperluas berbagai program peningkatan mutu pendidikan.
Ia mendorong agar penguatan kompetensi guru, pengembangan budaya literasi di sekolah, peningkatan prestasi peserta didik, serta pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Aceh terus mendapatkan perhatian serius.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan harus diukur dari seberapa besar perubahan yang dirasakan oleh peserta didik dan tenaga pendidik di lapangan.
“Penghargaan ini hendaknya menjadi motivasi untuk terus bekerja dan melahirkan program-program yang lebih konkret. Kita berharap manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh siswa di Aceh,” kata Yahdi.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi Aceh di masa mendatang. Karena itu, sinergi antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan harus terus diperkuat.
Dengan demikian, penghargaan terhadap praktik baik pendidikan, sastra, bahasa, dan budaya tidak hanya menjadi simbol apresiasi, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat arah pembangunan pendidikan Aceh yang unggul secara akademik, kuat secara karakter, serta tetap berakar pada nilai dan budaya daerah.


